sejarah inflasi

bagaimana hilangnya nilai uang memengaruhi psikologi konsumsi masyarakat

sejarah inflasi
I

Pernahkah kita berdiri di depan kasir minimarket, menatap struk belanja, dan membatin, "Perasaan dulu uang lima puluh ribu bisa dapat lebih banyak dari ini?" Tenang, kita tidak sendirian, dan kita sama sekali tidak gila. Ingatan kita soal harga mi instan atau es krim favorit sepuluh tahun lalu itu nyata. Uang di dompet kita secara fisik masih sama. Warnanya sama, tokoh pahlawan yang tercetak di sana juga sama. Tapi kemampuannya sudah jauh berkurang. Ada pencuri tak kasat mata yang diam-diam menyelinap ke rekening tabungan kita setiap malam. Namanya inflation atau inflasi. Tapi hari ini, saya tidak ingin mengajak teman-teman bicara soal grafik ekonomi yang membosankan. Kita akan membedah sesuatu yang jauh lebih intim. Bagaimana fenomena hilangnya nilai uang ini diam-diam meretas otak kita, dan mengubah cara kita mengambil keputusan setiap harinya.

II

Mari kita putar waktu jauh ke belakang. Tepatnya ke zaman Kekaisaran Romawi di abad ketiga masehi. Waktu itu, kaisar mereka butuh banyak uang untuk mendanai perang dan proyek raksasa. Tapi uang negara terbatas. Akhirnya, mereka melakukan trik nakal. Koin perak yang jadi alat tukar resmi, pelan-pelan dicampur dengan logam murahan seperti tembaga. Awalnya masyarakat tidak sadar. Tapi lama-kelamaan, koin perak itu berubah warna. Nilainya pun anjlok. Pedagang mulai mematok harga lebih tinggi. Di sinilah terjadi pergeseran psikologis yang menarik. Ketika rakyat Romawi sadar uang mereka terus menyusut nilainya, mereka berhenti menabung. Untuk apa menyimpan koin yang besok nilainya lebih rendah dari hari ini? Mereka mulai menimbun barang. Gandum, anggur, besi. Apa saja yang punya wujud fisik. Fenomena ini terus berulang sepanjang sejarah. Dari Jerman pasca Perang Dunia Pertama di mana orang harus membawa uang sekarung hanya untuk beli roti, hingga negara-negara modern saat ini. Polanya selalu sama. Saat uang kehilangan wibawanya, perilaku manusia ikut berubah drastis.

III

Sekarang, mari kita lihat ke dalam kepala kita sendiri. Secara evolusi, otak manusia dirancang untuk mencari rasa aman. Uang, di era modern, adalah simbol keamanan itu. Ketika inflasi merajalela, otak kita membaca situasi ini sebagai sebuah ancaman. Bayangkan kita sedang menggenggam sebongkah es batu di tengah terik matahari. Es itu terus mencair. Apa yang akan kita lakukan? Kita pasti ingin segera memanfaatkannya sebelum habis tak bersisa, bukan? Seperti itulah otak kita memproses uang di tengah inflasi tinggi. Dalam psikologi, ada konsep yang disebut hyperbolic discounting. Ini adalah kecenderungan alami kita untuk lebih memilih imbalan kecil yang instan hari ini, daripada imbalan besar di masa depan. Nah, inflasi memperparah bias kognitif ini. Jika kita tahu uang sepuluh juta kita tahun depan daya belinya akan tergerus, motivasi kita untuk menunda kepuasan jadi hancur lebur. Lalu, apa yang terjadi ketika jutaan orang di suatu negara secara bersamaan merasa uang mereka seperti es batu yang mencair? Ada sebuah misteri perilaku konsumen yang sangat aneh di sini, dan jawabannya mungkin akan membuat kita meninjau ulang barang-barang di keranjang e-commerce kita.

IV

Inilah rahasia besarnya. Inflasi tidak hanya merusak angka di rekening, tapi ia menciptakan apa yang oleh para ahli disebut sebagai ilusi kekayaan yang merusak atau money illusion. Saat harga-harga naik dan uang kehilangan nilai, kita merasa harus segera membelanjakannya. Kenapa belakangan ini banyak orang mengeluh kesulitan ekonomi tapi tiket konser musik selalu ludes dan kafe-kafe aesthetic tidak pernah sepi? Sebagian dari jawabannya adalah respons stres bawah sadar terhadap inflasi. Otak kita melepaskan dopamin—hormon kebahagiaan—saat kita berhasil menukar uang kertas yang nilainya terus turun dengan sesuatu yang bisa kita nikmati secara nyata sekarang juga. Kita tidak lagi belanja karena kita butuh. Kita belanja karena otak primitif kita panik. Uang berubah dari alat simpanan masa depan menjadi kentang panas yang harus segera dilemparkan ke orang lain. Sejarah dan sains membuktikan, inflasi yang berkepanjangan selalu melahirkan generasi yang sangat konsumtif namun ironisnya, merasa miskin di saat yang bersamaan. Kita terjebak dalam treadmill konsumsi, berlari semakin kencang hanya untuk tetap berada di tempat yang sama.

V

Jadi, kalau belakangan ini teman-teman merasa susah sekali untuk menabung, mari kita tarik napas sejenak. Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Sering kali, kita merasa bersalah karena mengira kita ini bodoh mengatur keuangan. Padahal kenyataannya, kita sedang bertarung melawan sistem makroekonomi dan jebakan psikologis yang sudah berusia ribuan tahun. Kesadaran adalah senjata pertama kita. Mengetahui bahwa otak kita sedang dikelabui oleh inflasi adalah langkah awal untuk merebut kembali kendali. Mulai sekarang, setiap kali kita merasa terdesak untuk menekan tombol checkout di toko online, bertanyalah pada diri sendiri. Apakah saya benar-benar menginginkan barang ini, atau saya hanya sedang panik karena merasa uang saya perlahan menguap? Mari kita biasakan berpikir kritis, tidak hanya pada berita yang kita baca, tapi juga pada emosi dan dorongan belanja kita sendiri. Sebab pada akhirnya, pertahanan terbaik melawan inflasi bukanlah sekadar mencari uang lebih banyak, melainkan menjaga akal sehat kita tetap utuh.